Review Film Bidadari Bidadari Surga

Di Film 679 views

Satu lagi film Indonesia yang menarik perhatian saya, Bidadari-Bidadari Surga, karya sutradara Sony Gaokasak. Film ini mengambil kisah dari novel yang berjudul sama, Bidadari-Bidadari Surga, karya Tere Liye. Saya belum pernah membaca novelnya, entah sama atau tidak dengan film yang beberapa waktu lalu saya tonton. Padahal Bidadari-Bidadari Surga adalah film yang tayang pada tahun lalu, 2012 :mrgreen: *telat banget ripiunya*

bidadari bidadari surga film

Entah ceritanya yang menarik atau sang sutradaranya yang pandai memilih pemain, setting tempat dan lain-lain. Yang jelas kolaborasi dari semuanya menghasilkan film yang begitu ‘menyentuh’ dan sanggup menyadarkan para penontonnya tentang arti keluarga.

Seluruh pemain bidadari-bidadari surga

Untuk kesekian kalinya Nirina Zubir membuktikan kepandaian aktingnya, terbukti ia sangat gemulai memerankan tokoh utama dalam film tersebut. Nino Fernandez, Nadine Chandrawinata tak kalah keren. Keren tampang dan juga akting, tentunya.

Mereka bertiga adalah tokoh yang menjadi sorotan dalam film Bidadari-Bidadari Surga. Yup, aktor/akris utamanya sebagian memang bertampang bule yang ganteng dan cantik. Bukan tanpa sebab, pemain berwajah bule diambil karena tuntutan cerita di dalamnya.

Henidar Amroe, Rizky Hanggono, Chantiq Schagerl, Mike Lewis, Juhana Sutisna, Frans Nicholas, Adam Zidni, Astri Nurdin, Gary Iskak, dan Billy Boedjanger. Mereka adalah beberapa pemain yang turut ambil peran dalam film tersebut. Semua pemain berkolaborasi dengan baik menghasilkan film yang sangat apik. Lagi-lagi, itu juga pandapat pribadi saya 😀

para pemain bidadari bidadari surga

Review Film Bidadari-Bidadari Surga

Film ini terdapat dua setting waktu. Kehidupan pada saat kecil dan seteleh dewasa. Berikut ini ulasan review film Bidadari Bidadari Surga selengkapnya 😀

Kehidupan Saat Anak-anak

Di sebuah desa terpencil hiduplah sebuah keluarga miskin. Rumahnya sekotak kecil, hanya terbuat dari papan kayu yang mempunyai satu ruangan saja. Rumah tersebut ditinggali 5 Orang anak dan satu Ibu (Henidar Amroe). Dialah Laisa (Nirina Zubir) sebagai kakak pertama, Dalimunte (Nino Fernandez), Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta (Nadine Chandrawinata). Mereka masih kecil-kecil (diperankan oleh aktor/aktris lain). Dalimunte, Ikanuri, Wibisana masih berseragam putih-merah. Sedangkan Yashinta belum sekolah.

Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta mempunyai wajah tampan-tampan dan cantik. Sedang Laisa mempunyai sosok yang tak sempurna, kulitnya hitam dengan rambut yang semrawut. Itulah yang menyebabkan mereka sering menjadi bahan gunjingan oleh orang-orang kampung. Tapi Laisa pandai menyimpan kesedihan di depan adik-adiknya.

Hidup di daerah pegunungan yang dikelilingi gunung batu membuat kehidupan mereka keras. Terlebih tidak ada sosok “ayah” yang seharusnya menjadi sandaran bagi mereka. Sebagai kakak tertua, Laisa menggantikan sang ayah mendidik adik-adiknya untuk disiplin dan bekerja keras. Satu tujuan yang diinginkan Laisa, adik-adiknya menjadi sukses agar tidak hanya menjadi penyadap karet saja. Laisa yang berwatak keras dan tidak cengeng ini mendidik adik-adiknya dengan keras. Tak patuh sedikit, pukulan kayu menghujani mereka.

Dari ketiga adik laki-lakinya, Dalimunte adalah adik yang paling penurut dan cerdas. Tidak seperti Ikanuri dan Wibisana yang selalu bandel tidak mau mendengar nasihat Laisa. Hingga pada puncaknya, Ikanuri dan Wibisana membangkang. Mereka mencerca dan tidak lagi mematuhi nasihat Laisa. Laisa sedih, padahal sifat kerasnya tersebut hanya agar adik-adiknya hidup bahagia kelak.

Dibalik itu semua Laisa menyayangi mereka. Laisa menyelamatkan Ikanuri dan Wibisana yang hampir dimangsa Harimau hutan, lantaran mereka berdua kabur setelah Laisa menghajarnya karena mengambil mangga milik Uwak mereka.

Tidak seperti kedua adiknya, kecerdasan Dalimunte terlihat sejak kecil. Satu yang mencirikan dia, selalu membaca buku. Kecerdasannya dibuktikan dengan ide merancang dan membuat kincir air untuk menggerakkan generator pompa air. Pertama ia buat sendiri dalam versi mini. Dan setelah diujicoba, akhirnya Dalimunte memutuskan untuk membuat yang lebih besar untuk kampungnya.

Dengan bantuan Uwak (Paman) dan penduduk kampung, mereka mendirikan kincir air besar yang terbuat dari kayu. Banyak yang meragukan hasil karyanya itu, termasuk Dalimunte sendiri ketika ditanya warga, apakah kincir air itu bisa bekerja atau tidak. Kak Laisa adalah satu-satunya orang yang mendukung Dalimunte sekaligus meyakinkan warga bahwa kincir air itu pasti bekerja.

kebun stroberi laisa, film bidadari bidadari surga, review film, film bidadari surga, dalimunte

Yashinta, ia gadis cantik yang paling kecil dari ke-empat saudaranya yang lain. Sejak kecil ia sangat suka dengan hewan. Sangat suka cerita tentang kehidupan binatang dan sejenisnya. Dengan bantuan Kak Laisa, Yashinta diajak melihat berang-berang di sungai hutan. Yashinta ini yang paling dekat dengan Laisa. Tentu saja, saat ditinggal ketiga kakak lelakinya, dia selalu bersama Laisa.

Satu persamaan dari keluarga ini adalah sama-sama pekerja keras dan ingin hidup sukses. Laisa adalah kakak yang paling berjasa dikeluarga tersebut. Setiap hari, Laisa selalu mengantarkan Dalimunte, Ikanuri, dan Wibisana ke jalan raya yang terdapat kendaraan untuk mencapai sekolah. Namun, setelah sampai jalan raya, adik laki-lakinya lebih memilih bekerja untuk mencari uang membantu sang Ibu. Termasuk Dalimunte yang terlihat rajin belajar setiap malam.

Kerja Keras Laisa

Pada suatu malam, Yashinta demam tinggi. Laisa menggantikan Ibunya menjaga adik ragilnya itu dan menyuruh sang ibu untuk istirahat. Tiba-tiba Yashinta kejang, Laisa berteriak membangunkan seluruh anggota keluarga. Lalu ia pun pergi keluar mencari bantuan.

Dengan menerobos hujan tanpa payung, Laisa mencari bantuan medis di kampung. Saking paniknya, ia terjatuh dan kakinya mengenai bambu. Dengan gontai Laisa terus berjalan hingga akhirnya menemukan dua orang mahasiswa kedokteran yang sedang KKN di desa dan segera mengajak ke rumah untuk memeriksa Yashinta.

Beberapa saat kemudian, setelah diperiksa dan diberi obat, kedua mahasiswa itu meninggalkan rumah mereka. Ada satu pembicaraan yang ditangkap Laisa tatkala sang mahasiswa hendak keluar rumah.

“Disini sejuk, seandainya penduduk kampung sini ada yang menanam strawberi pasti akan subur dan desa ini akan lebih maju”

Laisa mempunyai ide untuk mengawali menanam strawberi, buah yang tidak dikenal warga kampung sana. Mereka hanya mengenal jagung yang biasanya ditanam warga di ladang. Dengan penuh optimis, Laisa menanam stawbery dengan modal uang biaya sekolah Dalimunte dan adik-adiknya.

Kegalauan pun timbul, warga pesimis akan ide Laisa untuk menanam stawbery, meskipun ia telah mengatakan kepada mereka bahwa strawberi adalah buah yang mempunyai nilai jual tinggi di kota. Ternyata memang tak mudah menanam strawberi, beberapa bulan kemudian bukan panen yang ia dapat, tapi semua tanaman stawbery Laisa mati.

Tidak ada satupun yang berbuah. Mereka kurang tahu bahwa menanam strawbery saat musim hujan itu bisa. Tentu saja Laisa yang paling sedih, biaya sekolah adik-adiknya kini tidak kembali, artinya Dalimunte dan adik-adiknya tak bisa melanjutkan sekolah.

Akan tetapi bukannya sedih, adik-adiknya justru senang ia tidak sekolah, karena mereka bisa bekerja membantu orangtuanya. Mendengar kata-kata Dalimunte seperti itu, Laisa marah besar. Ia tak membolehkan Dalimunte dan adik-adiknya putus sekolah, ia ingin adik-adiknya menjadi orang sukses.

Dalimunte pun menyetujui permintaan Laisa, ia akan melanjutkan sekolah tahun depan dengan syarat Laisa juga tidak boleh menyerah untuk menanam strawberi. Laisa menyanggupi, ia mulai menanam kembali strawberi baru. Beberapa bulan kemudian terlihat kemajuan. strawberi yang Laisa tanam tumbuh subur. Hidupnya semakin membaik dengan strawberi yang ia tanam.

Kehidupan Saat Dewasa

Semua anggota keluarga telah melewati fase anak-anak, kini mereka semua telah dewasa. Termasuk Yashinta, adik paling kecil. Banyak perubahan terjadi. Gubuk kecil itu kini sudah menjadi istana, rumah yang lebih layak untuk mereka tinggal. Mobil pun sudah ada. Perkebunan strawberi Laisa sudah meluas.

kebun stroberi laisa, film bidadari bidadari surga, review film, film bidadari surga

Ia mempunyai banyak karyawan yang memanen strawberinya setiap hari. Dalimunte si cerdas kini telah menjadi profesor diusianya yang masih muda. Ikanuri dan Wibisana pun sudah menjadi orang sukses. Yashinta si penyayang binatang kini bekerja sebagai seorang ilmuan peneliti elang.

Namun ada sesuatu yang tidak berubah dari kecil hingga mereka dewasa. Yaitu Laisa. Meskipun sudah kaya, wajah Laisa tetap tidak berubah, masih seperti yang dulu sehingga tidak ada lelaki yang mau mempersuntingnya.

Sementara Uwaknya yang sudah tua saja masih ‘laku’ menikah. Seperti pada umumnya, gadis dewasa yang tak kunjung menikah menjadi bahan perbincangan hot di kampung. Begitu pun juga dengan Laisa, menjadi bahan omongan orang.

Tak menghiraukan dirinya, pikiran Laisa justru tertuju pada adiknya, Dalimunte. Sebagai pria mapan dan telah mempunyai calon pendamping, Laisa menyuruh Dalimunte untuk segera menikahi gadis yang dibawanya ke rumah. Tapi Dalimunte menolak, dengan alasan bahwa dia dan gadis itu hanya teman biasa. Tanpa basa-basi si gadis yang tersakiti, meninggalkannya. Dalimunte tetap tidak mau menikah sebelum Laisa menikah. Maklum, mitos melangkahi menikah kakak pertama itu masih dipercaya oleh penduduk kampung mereka.

Setelah melalui perdebatan panjang, Dalimunte pun akhirnya mau menikahi gadis yang sebenarnya ia cintai dengan seizin Laisa. Pernikahanpun terjadi. Mereka akhirnya dikaruniai satu anak perempuan yang menggemaskan dan menghibur Laisa dan ibunya.

Setelah menikah, Dalimunte berusaha keras mencarikan jodoh untuk Laisa. Tapi hasilnya tidak begitu memuaskan. Semua lelaki teman Profesor Dalimunte menolaknya setelah melihat foto Laisa yang kurang cantik. Hingga pada suatu malam, Uwak menyampaikan kabar gembira bahwa ada duda dari desa tetangga yang akan menikahi Laisa.

Jodoh Untuk Laisa

Hari pernikahan pun terjadi, duda desa tetangga yang belum pernah dilihat Laisa sama sekali itu langsung menolak ketika Laisa keluar dari kamar. Tidak hanya membatalkan pernikahan, duda itu juga menjelek-jelekkan Laisa. Hal itu membuat adik-adik Laisa dan Uwaknya marah, sehingga terjadi keributan. Kegagalan pernikahan itu membuat Laisa semakin pasrah dan menyerah untuk dijodohkan.

Dalimunte tak pantang menyerah, ia tetap saja berusaha keras mencarikan jodoh buat Laisa, kakaknya. Pada suatu ketika, ia mendengar ceramah seseorang dikantornya. Penceramah tersebut mengatakan bahwa kecantikan wanita itu jangan dilihat dari luar, tapi dalam hatinya. Mendengar ceramah lelaki yang ternyata kakak kelasnya dulu, Dalimunte berniat menjodohkannya dengan Laisa. Dalimunte sangat yakin perjodohan itu akan berhasil.

Sayang seribu sayang, sewaktu mereka dipertemukan, mantan kakak kelas Dalimunte itu langsung memalingkan muka sebab kakak Dalimunte yang tampan itu tak berwajah cantik. Perjodohan inipun gagal. Laisa sudah tak lagi memikirkan jodohnya. Ia menjalani hidupnya dengan mengurus tanaman strawberi yang semakin meluas itu.

Lelaki Terakhir Untuk Laisa

Disaat semua orang sudah pesimis, tiba-tiba teman sekantor Dalimunte mendatanginya dan berniat menikahi Laisa. Kali ini berbeda, dia sungguh serius. Dalimunte terperanjat, ia kaget. Dharma, yang ia kenal sudah beristri itu hendak menikahi kakaknya. Keinginan Dharma disampaikan kepada Uwak dan ibunya. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mencoba mendekatkan Laisa dan Dharma.

Berbeda dengan lelaki yang dijodohkan sebelumnya, Dharma menarik hati. Sebelum Laisa mengetahui bahwa Dharma sudah beristri, ia menaruh harap jodohnya adalah Dharma. Sikap Laisa yang tadinya pendiam tiba-tiba berubah setelah ada Dharma. Laisa menjadi ceria, setiap hari ia selalu menantikan seseorang datang ke perkebunan strawberinya. Dharma sungguh membuat hati Laisa berbunga.

Namun, apa yang terjadi Pemirsaaahh…

Ternyata, keinginan Dharma untuk menikahi Laisa sebagai istri kedua bukan atas kehendaknya. Istri Dharma lah yang memintanya menikah dengan Laisa. Istri Dharma belum juga mempunyai anak, itu alasan utamanya. Seperti dalam film india memang, tapi ini berbeda cerita.

Bagian ini merupakan bagian yang paling menyedihkan. Setelah beberapa hari Dharma bertemu dengan Laisa, ia memutuskan untuk melamarnya. Hal itu dikemukakan olehnya kepada Dalimunte. Dalimunte menyetujui dengan syarat, Dharma harus memberitahukan kepada Laisa bahwa ia sudah beristri.

Tepat seperti apa dugaan pemirsa, Laisa menolak menikah dengan lelaki yang sudah beristri. Laisa sakit hati, ia merasa dibohongi Dharma. Dharma yang memang orang baik menjelaskan kepada Laisa bahwa hal itu bukan keinginannya. Ia tak mau menyakiti hati istrinya, tapi disisi lain ia telah menyakiti perasaan Laisa.

Sudah jelas, Laisa sungguh kecewa, wajahnya langsung murung, berubah seketika. Selang sehari, Dharma kembali ke rumah Laisa untuk meminta maaf. Dharma juga meminta maaf kepada ibu Laisa dan Dalimunte, sekaligus berpamitan untuk tidak memasuki kehidupan Laisa lagi.

Ada satu bagian yang membuat trenyuh diriku. Menyedihkan, membuat mataku berkaca-kaca…

Pernikahan Laisa?

“Tidak ada wanita yang rela membagikan suaminya kepada wanita lain. Dan wanita yang melakukannya rela mengorbankan perasaannya demi orang yang dicintainya. Harusnya Laisa belajar sama istri Abang untuk rela mengorbankan perasaannya demi orang yang kita sayangi. Bang, Lais mau jadi istri Abang. Jadi istri kedua Abang”

pernikahan laisa, kebun stroberi laisa, film bidadari bidadari surga, review film, film bidadari surga, dalimunte

Lais mengucapkan itu dengan air mata mengalir di sudut matanya. Ia mau menikah dengan Dharma setelah melihat pengorbanan keluarganya untuk mencarikan jodoh dan pengorbanan lelaki yang sedang dihadapinya Dharma yang sudah mau menuruti kemauan istrinya untuk menikahi Laisa.

Hari pernikahan pun tiba. Semua gembira, terlebih ibu dan adik-adik Laisa. Akhirnya ada lelaki yang mempersunting kakak sulungnya. Laisa dan Yashinta juga bahagia, mereka berdua bercanda dikamar. Sebenarnya Yashinta tidak setuju Laisa menjadi istri kedua. Tapi Yashinta juga tak mau melihat kakaknya tak jua menikah.

Pada saat yang sama, ada kabar mengejutkan terjadi pada Dharma. Kabar bahagia bagi Dharma, kabar menyedihkan bagi keluarga Laisa. Istri Dharma menelpon bahwa dirinya telah positif hamil. Meskipun demikian, istri Dharma tidak ingin suaminya membatalkan pernikahan dengan Laisa yang sudah benar-benar jatuh cinta kepada Dharma.

Saat ijab-qabul pun tiba, entah apa yang ada dibenak Dharma, tiba-tiba dia mengambil keputusan yang mengagetkan semua yang hadir. Dharma mengurungkan pernikahan, ia tak mau menyakiti istri tercintanya. Padahal keputusannya membuat hati Laisa dan keluarga kecewa berat.

Semua menyalahkan tindakan Dharma. Laisa tak bisa berbuat banyak, ia hanya menangis sedu. Apa boleh dibuat, Laisa membiarkan Dharma pergi menemui istrinya. Adik-adiknya, terutama Dalimunte amat kesal dengan Dharma yang telah menyakiti Laisa. Hampir saja Dali memukul Dharma, tapi Laisa melerai.

Kanker Paru-paru

Kali ini Laisa benar-benar pasrah akan keadaan. Keinginan terbesarnya saat itu adalah melihat semua adik-adiknya menikah. Beberapa waktu setelah Laisa gagal menikah, Ikanuri dan Wibisana pun akhirnya hendak bertunangan. Tentu saja membuat Laisa bahagia, karena itu memang keinginannya.

Akan tetapi suatu hal buruk terjadi pada Laisa. Ia sakit. Batuk yang dikeluarkannya berdarah. Sang Ibu mengetahuinya, tapi Laisa tak mau dibawa ke rumah sakit. Alasan utamanya karena beberapa hari lagi pertunangan Ikanuri dan Wibisana. Laisa tak mau melihat dua adiknya sedih dan membatalkan acara pertunangan. Sebagai gantinya, Laisa berjanji akan periksa ke dokter tanpa diketahui adik-adiknya.

Hasil diagnosa dokter menunjukkan bahwa Laisa mengidap penyakit mematikan, kanker paru-paru. Begitu mendengar hal itu, ibunya tak kuasa menahan air mata. Laisa tetap tidak ingin penyakitnya itu diketahui adik-adiknya. Bahkan sampai Ikanuri dan Wibisana menikah, tidak ada seorangpun yang mengetahui kalau kakaknya mempunyai kanker paru-paru.

Pernikahan Yashinta

Yashinta adalah anak terakhir yang belum menikah. Sifatnya keras kepala. Ia tidak mau menikah sebelum kakaknya, Laisa menikah. Meskipun sudah ada seorang lelaki yang melamarnya di depan Laisa. Yashinta malah marah besar kepada laki-laki itu.

YASHINTA, film bidadari bidadari surga, review film, film bidadari surga

Calon suami Yashinta itu didesak oleh Laisa agar cepat menikahi Yas. Desakan halus Laisa kepada calon suami Yas tak lain agar Laisa bisa melihat adik paling kecilnya menikah dan hidup bahagia. Mengingat kanker paru-paru Laisa semakin memburuk.

Sakit Laisa belum diketahui adik-adiknya, tapi dia Ibunya sudah tak tahan lagi untuk mengungkapkan penyakit Laisa kepada anak-anaknya yang lain. Laisa yang semakin parah tak bisa memaksa Ibunya memberitahu penyakit kanker itu kepada adik-adiknya.

Sang Ibu memberitahukan sakit Laisa kepada Dalmante, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta. Dalam kesibukan masing-masing, mereka langsung pulang ke rumah setelah membaca sms dari ibunya bahwa Laisa sakit keras.

Dalimunte yang sedang pidato langsung menghentikannya. Ikanuri dan Wibisana yang hendak ke luar negeri langsung membatalkannya. Begitupun juga dengan Yashinta yang sedang berada di luar untuk penelitian bergegas pulang ke rumah Laisa. Saking terburu-burunya, Yashinta terpeleset dari gurun yang menyebabkan kakinya patah. Mereka semua lakukan hanya untuk Laisa, kakak pertama yang selalu mengorbankan segalanya untuk keluarga.

Dalam keadaan sakit, Laisa menginginkan Yas segera menikah. Ia takut tak sempat melihat pernikahan adik wanitanya itu. Akhirnya pernikahanpun dilaksanakan. Keinginan terbesar Laisa kini sudah terpenuhi. Di tengah-tengah kegembiraan keluarga, Laisa menangis haru sebab obsesinya telah tercapai semua. Melihat adik-adiknya menikah dan hidup bahagia.

Ending…

Akhir ceritanya kurang memuaskan. Menambah rasa penasaran saya bergejolak. Pasalnya, pikiran saya sudah mengarah pada kematian Laisa. Tapi dalam film tersebut tidak ditampakkan proses kematian Laisa. Laisa hanya melambaikan tangan kepada adik-adiknya meninggalkan rumah dengan berpakaian putih. Wajah Laisa pun berubah sebagaimana wajah asli Nirina Zubir, cantik. Sudah, begitu saja.

***

Film tersebut mengandung banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik. Salah satunya bahwa dalam satu keluarga hendaknya kita saling membantu, jika perlu berkorban untuk satu sama lain demi kerukunan dalam keluarga tersebut. Dan pastinya masih banyak hikmah dibalik film Bidadari-Bidadari Surga.

Demikian review film Bidadari-Bidadari Surga versi Tunsa. Maafkan jika hasil reviewnya kacau, harap maklum 😀

Tags: #Bidadari Bidadari Surga #Film Bidadari Surga #Tere Liye

author
Penulis: 
Blogger asal Pekalongan yang punya mimpi BESAR. Terima kasih telah membaca tulisan saya, silakan SHARE jika bermanfaat!
Baca Juga×

Top