Mobil Berbahan Bakar Ampas Tahu Karya Anak Bangsa

Penjualan mobil berbahan bakar minyak di Indonesia pada tahun 2021 hampir mencapai 900 unit. Pantas saja, Indonesia menjadi salah satu negara dengan kendaraan terpadat di dunia. Dari sekian banyak mobil yang diproduksi, sebagian besarnya ada di Jakarta.

Satu sisi, itu menjadi sebuah kebanggaan karena masyarakat kita mampu memiliki kendaraan yang tidak murah tersebut. Sisi lain, kita juga darurat polusi.

Kabar baiknya, hal itu disadari oleh banyak pabrikan mobil sekarang ini. Terbukti banyak pabrikan mobil berbondong-bondong mengeluarkan produk mobil listrik yang ramah lingkungan. Sayangnya mobil-mobil listrik itu harganya masih tergolong tinggi.

Kepercayaan masyarakat Indonesia dengan mobil listrik pun belum terbentuk. Banyak yang masih beranggapan menggunakan mobil listrik itu merepotkan karena belum tersedianya infrastruktur charger sebagaimana SPBU.

Selain itu, teknologi yang tergolong baru ini membuat banyak pihak meragukan keawetan dan ketangguhan mobil listrik. Mereka khawatir jika terjadi kerusakan pada mobil listrik, tidak mudah untuk membetulkannya.

Mobil Ramah Lingkungan Karya Anak Bangsa

Sekarang ini banyak negara dan pabrikan mobil berlomba membuat mobil ramah lingkungan. Mulai dari mobil listrik hingga mobil berbahan bakar air atau hidrogen. Di Jepang sendiri sudah dikembangkan mobil berbahan bakar hidrogen, dimana air yang keluar dari knalpot bersama gas bisa diminum.

mobil berbahan bakar ampas tahu

Termasuk Indonesia, salah satu negara yang banyak mengembangkan mobil ramah lingkungan. Kita patut berbangga karena ternyata ada sekelompok pemuda dari Jember yang bisa membuat mobil berbahan bakar ampas tahu. Wow!

Ya, Anda tidak salah dengar. Mobil karya anak bangsa yang bahan bakarnya dari ampas tahu tersebut diberi nama Mobela. Meski masih berbentuk prototype, mobela menjadi harapan bagi kita untuk menciptakan mobil-mobil lain yang ramah lingkungan.

Fakta tentang Mobela, Mobil Ampas Tahu

Mobela diciptakan oleh sekelompok mahasiswa dari Politeknik Jember. Bahan bakar yang digunakan memang tidak murni dari ampas tahu. Sebelum digunakan sebagai bahan bakar, sebelumnya ampas tahu difermentasi terlebih dahulu. Dengan campuran tongkol jagung dan tepung tapioka.

Hasil dari fermentasi tersebut didapatkan ethanol, dan inilah yang akan menjadi bahan bakar mobil mobela. Berdasaarkan penelitian dari Prof. Dr. Ir. Djoko Sungkono (Institut Sepuluh Nopember Surabaya) menyatakan bahwa nilai oktan bioethanol tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan BBM premium.

Nilai oktan yang semakin tinggi akan membuat bahan bakar tersebut mudah terbakar dan gas buang yang dihasilkan lebih kecil.

Meski menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, Mobela mampu melaju 40 km per jam. Salah satu tim pembuat mobil tersebut berharap mobil ciptaan mereka lolos uji emisi. Selain itu, dukungan dari pemerintah juga sangat diharapkan sehingga bisa diproduksi secara masal.

Bagaimana menurut Anda, kalau Mobela diproduksi masal, kira-kira harganya berapa ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.