Pengalaman Kena Covid 19

Diposting pada

Hmm… bingung ceritanya darimana.

pengalaman kena covid 19

Ini tentang pengalaman kena covid 19 atau virus corona yang membuat kelabakan semua negara di dunia. Sejak kemunculannya tahun lalu, penyakit ini tidak ada padamnya, bahkan katanya bermutasi menjadi lebih “ganas”.

Ah, itu sebagian berita yang tayang di media sosial maupun stasiun televisi. Ya, memang awalnya saya memang hanya membaca dan mendengar berita-berita tersebut. Akhirnya, sekarang saya juga yang menjadi “pasien”.

Jadi begini cerita tentang pengalaman saya terkena corona virus….

Awal Mula Kena Covid 19

Saya sendiri tidak tahu kapan bermulanya dan kenapa saya kena. Akan tetapi, pada hari kamis malam, 5 februari 2021, badan serasa gak fit. Kepala sedikit pusing, tapi pikiran saya saat itu tidak tertuju pada covid.

Maksudnya pusing disini, sakit kepala ya. Bukan pusing yang rasanya muter-muter gitu. Biasanya kalau pusing ini mengganggu, saya biasa minum panadol paracetamol.

Seperti itulah yang saya lakukan saat itu, minum parcet, lalu tidur. Keesokan harinya mendingan. Hari jum’at, saya berangkat sholat jum’at di masjid seperti biasa. Sepulangnya, kepalaku kembali sakit, akhirnya minum parcet lagi dan istirahat.

Badan mulai terasa gak enak, lalu perut serasa mual, kembung begitu. Selama jumat hingga hari sabtu, rasanya seperti itu terus. Sedikit demam, tapi tidak terlalu tinggi demamnya.

Sampai sabtu malam, sekitar jam 12 tengah malam, tiba-tiba badan menggigil, benar-benar terasa sangat dingin saat itu. Sampai istriku memberikan selimut tebal berlapis. Tidak lupa minum parcet lagi, untuk meringankan demamnya.

Pagi harinya, mulai enakan. Tapi siang harinya, hingga hari senin, rasanya masih kurang fit meskipun sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Hari selasa 9 Februari 2021, saya diminta mengantar keponakan ke terminal bis karena dia akan pergi tes masuk pondok di Bogor. Karena badan sudah agak fit dan bisa diajak aktivtas, akhirnya saya antar mereka.

Kami se mobil, sekeluarga, mengantar sampai terminal bis. Tidak ada masalah apa-apa, meski badanku masih sedikit lemas. Aktivitas hingga malam pun saya lakukan seperti biasa, ketemu orang-orang dan lain-lain.

Malam harinya, badan ini terasa sangat fit, sampai mataku tak kunjung merasakan kantuk. Hingga tengah malam, belum bisa memejamkan mata. Tapi akhirnya saya bisa tertidur pulas sekitar jam 2 pagi.

Pertama Kali Anosmia (Tidak Mencium Bau)

Rabu 10 Februari, subuh harinya, saya terbangun setelah mendengar adzan. Saat itu rasanya sungguh sangat fit. Aktivitas harian setelah bangun, pertama kali adalah MCK.

Saya menuju kamar mandi, cuci tangan pakai sabun, lalu gosok gigi dan berwudhu. Tapi rasanya aneh, badan memang fit tapi sabun mandi yang saya pakai kok tidak berbau.

Saat keluar kamar mandi, saya kembali memastikan penciumanku dengan mengendus molto dan sabun cuci baju. Gak bau juga. Sampai kamar, saya kembali membaui hidung dengan deodoran, hasilnya masih sama. Sampai benar-benar dekat dengan hidung.

Aneh, padahal hidungku tidak sedang dalam keadaan pilek atau mampet, bahkan rasanya plong. Tapi semua hal tidak berbau.

Mulai deg-degan, tapi masih berpikir santai saja. Tidak lama iqomah berkumandang, saya langsung pergi ke masjid dekat rumah dan sholat subuh disana. Selesai sholat dan dzikir, saya merenung sejenak, ini kayaknya saya kena covid 19.

Jujur, saya sempet berpikir mau menyembunyikannya saja biar yang lain tidak tahu. Toh badanku tidak sakit, malah terasa sangat fit dan sehat. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk memberitahunya. Sungguh, ini pengalaman kena covid 19 yang luar biasa.

Pertama, istri yang saya kasih tau. Langsung kaget juga, beberapa saat “ngeblank”. Lalu kami langsung memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah orang tua. Ya, kalau di rumah ini, tidak ada lagi tempat yang ‘”aman”. Selain itu, kalau satu rumah, pasti anak-anak akan mendatangiku saat lagi rewel.

Dengan berat hati rasanya, saya langsung mengemasi barang-barang lalu menuju ke lokasi isoman, yaitu rumah orang tua.

Oiya, belakangan baru saya ketahui bahwa tidak mencium bau itu disebut anosmia.

Isolasi Mandiri Selama 12 hari

Sesampainya di rumah orangtua, hari masih gelap, sekitar jam 5 pagi lebih sedikit. Lalu saya cerita dulu ke mereka, dengan memakai masker dan jaga jarak. Lalu mereka kaget dan tidak percaya anaknya kena anosmia.

Sampai beliau memberikanku salep yang aslinya sangat berbau menyengat dan menyuruhku untuk mencium aromanya. Tapi hasilnya masih sama, tidak ada bau yang tercium di hidungku.

Hmm.. hari pertama isoman, sangat berat, bukan karena penyakitnya tapi karena mulai hari itu, saya tidak bersama dengan keluarga. Membayangkan istri saya mengurus 4 anak yang masih kecil-kecil sendirian, betapa repotnya.

Otomatis juga istri dan anak-anakku menjadi ODP. Alhamdulillahnya mereka tidak positif seperti ku.

Oh iya, tidak mencium bau itu biasanya ada 2 penyebabnya. Pertama karena pilek dan hidung mampet, dan covid 19. Tapi kalau pilek, kita masih bisa mencium aroma, hanya saja sangat sedikit. Pada covid berbeda, meski hidung tidak tersumbat, kita tidak bisa mencium aroma apapun.

Dengan alasan itulah saya memutuskan untuk isolasi mandiri saat itu juga, sembari berpikir apa yang selanjutnya dilakukan.

Hari Pertama Isoman Pelajari Covid 19

Tidak ada aktivitas apapun membuat saya punya banyak waktu. Hari pertama saya habiskan untuk menonton video tentang covid 19. Awalnya dikirimi link youtube oleh istriku. Dari situlah ketemu dengan video-videonya Dokter Pot yang sangat mengubah mindset ku tentang covid 19.

Jika Anda ingin menonton juga, search aja di youtube dengan kata kunci “Dokter Pot“. Beliau ini dokter dari pekanbaru yang merawat pasien covid di wisma atlet.

Singkat cerita, dari video-video yang saya tonton, saya sangat bersyukur karena bisa anosmia. Karena anosmia ini tanda-tanda bahwa covid yang diderita itu ringan hingga sedang.

Dan gejala ringan hingga sedang inilah yang kalau kita kena, tidak perlu panik. Hanya lakukan isolasi mandiri saja di rumah selama 11 hari sejak demam di tambah 3 hari tanpa gejala batuk demam. Setelah itu, tidak perlu tes PCR lagi karena tes swab hanya untuk diagnosa awal.

Akhirnya dengan tenang saya jalani proses itu sampai hari jumat pekan lalu, 19 Februari 2021, pertama kali saya mencium aroma pagi hari, hehe. Rasanya kayak abis keluar penjara, padahal saya belum pernah masuk penjara wkwk.

Rasa syukur ini bertambah besar saat semua keluarga juga sehat-sehat semua. Semoga virus ini segera musnah di dunia dan aktivitas manusia kembali normal.

Obat Selama Isolasi Mandiri

Hari pertama isoman, saya belum konsumsi obat atau vitamin. Hanya makan seperti biasa. Hari kedua baru saya chat WA ke salah satu dokter langganan dekat rumah. Saya meminta diresepi vitamin untuk covid. Akhirnya, diberilah sejumlah vitamin yang saya konsumsi 2x sehari.

Saya lupa memfoto vitaminnya apa saja, yang jelas, itu resep dari dokter. Selama vitamin itu ada, selama itupula saya minum. Setelah habis, saya tidak minta lagi vitaminnya.

Alhamdulillah, sakit kepala yang awal awal isoman masih ada sedikit berangsur pulih. Lalu mengenai anosmia, bagaimana saya pulih dan berapa lama, insya allah akan saya tulis di lain kesempatan.

Demikian pengalaman kena covid 19 dari saya, semoga bisa diambil pelajarannya untuk kita semua. Jangan lupa selalu jaga kesehatan dan lakukan protokol kesehatan.

Gambar Gravatar
Seorang pria asal Pekalongan yang gemar menulis dan sekarang belajar berbisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.