Siapa Mahram Kita?

Mahram merupakan istilah dalam Islam yang berarti orang-orang yang tidak boleh dinikahi secara syariat Islam. Hanya berlaku untuk orang yang berbeda jenis kelamin. Selain tidak boleh dinikahi, berlaku juga hukum-hukum lain seperti tidak boleh bersentuhan antara laki-laki dan perempuan dan sebagainya.

Istilah mahram sering disebut dalam masyarat Indonesia sebagai muhrim. Padahal muhrim dan mahram itu merupakan dua kata yang berbeda. Muhrim berarti orang yang mengenakan kain ihram, ketika akan umroh maupun haji.

Siapa Mahram Kita?

Pembahasan mengenai mahram itu sudah termaktub dalam Alquranul Karim dalam surat An-Nisa’ ayat 22-24. Juga diperkuat dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.

Secara garis besarnya, mahram itu terbagi menjadi dua, mahram yang berlaku selamanya dan mahram yang berlaku sementara. Untuk mahram yang bersifat selamanya, kita bahas nanti. Ada beberapa penyebab seseorang itu menjadi mahram sementara.

Mahram sementara ini yang biasanya menjadi rancu, karena termasuk orang-orang terdekat kita. Seperti saudara ipar atau bibi / paman dari istri / suami. Mereka menjadi mahram ketika masih berstatus sebagai suami/istri dari saudara kita. Begitu juga dengan paman / bibi dari suami/istri, ketika masih berstatus menikah dengan paman / bibi kita, selama itu pula tidak boleh dinikahi.

Hanya saja mahram sementara ini berlaku dalam hal pernikahan saja, untuk masalah bersentuhan tetap tidak berlaku seperti mahram selamanya.

Mahram Selamanya

Mahram selamanya atau biasa dikenal dengan istilah Muabbad yang dimaksud adalah mereka tetap menjadi mahram kita selamanya. Mahrom jenis ini terbagi lagi menjadi 3  penyebab secara garis besar. Pertama karena nasab, kedua karena pernikahan atau karena persusuan.

Mahram Nasab

Mahram secara nasab ini yang merupakan bawaan anggota keluarga. Seseorang tidak bisa mengubah atau menolaknya. Mahram secara nasab ini ada 7 golongan, disini saya mencontohkan orang pertama yang bernasab adalah laki-laki.

siapa mahram kita, mahram

1. Ibu Kandung

Ibu kandung hingga jalur atasnya. Berarti termasuk ibunya ibu atau nenek, ibunya nenek atau buyut. Ibunya buyut dan seterusnya, semua itu adalah mahram karena nasab.

2. Anak Perempuan

Anak perempuan hingga semua jalur ke bawahnya. Termasuk anaknya anak perempuan, alias cucu. Anak perempuan dari cucu dan seterusnya.

3. Saudara Perempuan

Saudara ini adalah saudara kandung. Adik atau kakak perempuan, itu saudara kandung. Berbeda dengan saudara sepupu, meskipun sesama saudara tapi hukumnya berbeda.

4. Bibi dari Ayah

Bibi ini bisa jadi adik ayah atau kakak ayah. Kalau di Jawa adik ayah berarti bulik, sedangkan kakak dari ayah biasa disebut budhe. Hukumnya sama, termasuk mahram muabbad.

5. Bibi dari Ibu

Ibu juga tentu punya saudara, nah saudara perempuan dari ibu juga disebut bibi. Dalam bahasa arab, bibi dari ayah dan bibi dari ibu dibedakan penyebutannya. Bibi dari Ayah itu disebut Ammah, sedangkan dari ibu disebut Kholat.

6. Keponakan dari Suadara Laki-laki

Tentu maksudnya keponakan perempuan ya, karena contoh kasus disini orang pertamanya adalah laki-laki. Keponakan ini merupakan mahram muabbad.

7. Keponakan dari Saudara Perempuan

Adik atau kakak kita yang memiliki anak perempuan, itu disebut keponakan. Insya Allah sudah paham, kalau keponakan ini termasuk mahram.

Mahram Akibat Pernikahan

Mahram ini terjadi bukan karena garis keturunan, tapi menjadi mahram selamanya akibat pernikahan. Mahram yang disebabkan karena pernikahan ini ada 4 macam:

1. Ibu Tiri

Ayah menikah lagi dengan seorang perempuan, maka perempuan yang dinikahi ayah tersebut termasuk mahram. Ketika terjadi akad nikah, mulai saat itu otomatis menjadi mahram bagi anak-anaknya ayah.

2. Ibu Mertua

Mertua ini memang sebelumnya tidak ada garis keturunannya dengan kita, sebelum menikahi putrinya, dia masih belum menjadi mahram. Ketika akad nikah, ibu dari istri (mertua) otomatis menjadi mahram. Dan itu berlaku selamanya, meskipun istrinya sudah dicerai.

3. Menantu

Kalau tadi point of viewnya dari anak, sekarang dari orang tuanya. Istri dari anak laki-lakinya, termasuk mahram bagi ayah si laki-laki tersebut.

4. Anak Perempuan Bawaan Istri

Kalau yang pertama ibu tiri, sedangkan sekarang anak tiri. Anak tiri perempuan dari istri itu termasuk mahram bagi sang ayah tiri. Tapi tidak serta merta seperti poin pertama, anak tiri perempuan ini bisa jadi mahram ayah tirinya dengan syarat si ayah tiri sudah menggauli ibunya anak tersebut.

Mahram Sepersusuan

Ini juga mahram yang terjadi bukan karena garis keturunan. Siapa saja yang menyusui seorang bayi maka berlaku mahram.

Misalnya seorang ibu menyusui anak perempuan. Otomatis orang tua dari anak perempuan tersebut menjadi mahram si ibu. Begitu juga saudara-saudaranya anak perempuan tadi. Ketika kelak anak perempuan tadi sudah dewasa, maka tidak boleh menikah dengan anak laki-laki dari si ibu yang menyusui.

Suadara-saudara kandung ibu yang menyusui juga otomatis menjadi mahram bagi anak yang disusui tadi. Begitu juga dengan anak yang disusui ketika dewasa dan mempunyai anak.

Mahram Sementara

Mahram ini tidak selamanya, ada penghalang sementara yang menyebabkan dia tidak boleh dinikahi. Tapi ketika penghalang tersebut hilang otomatis boleh dinikahi. Mahram sementara ini hanya tidak boleh dinikahi, tapi tetap berlaku hukum-hukum lain seperti non mahram. Misalnya bersentuhan, itu tidak diperbolehkan.

Secara singkat Mahram sementara ini ada beberapa golongan:

1. Ipar

Adik atau kakak ipar termasuk mahram sementara yang banyak orang tidak mengetahuinya. Banyak kita jumpai seseorang bersentuhan dengan kakak atau adik ipar. Terlebih jika tinggal dalam satu rumah. Makanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa ipar adalah maut, HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172.

Ipar ini boleh dinikahi ketika sudah tidak menjadi istri dari adik atau kakak kita. Tapi ketika masih berstatus sebagai istri dari adik kita maka itu mahram sementara.

2. Bibinya Istri (Dari ayah maupun ibu)

Bibi istri adalah adik atau kakak dari mertua kita. Mereka termasuk mahram sementara, sehingga saat tidak seseorang laki-laki sudah bercerai dengan istrinya maka bisa menikahi bibi mantan istri tersebut. Syaratnya bibi dari istri itu belum menikah ya, bukan yang sudah bersuami. Termasuk juga diantaranya istri dari paman kita.

3. Istri orang

Nah, ini jelas kita semua sudah tahu ya. Wanita yang masih berstatus sebagai istri orang lain tidak boleh dinikahi. Makanya hati-hati kalau menikah dengan seorang janda, pastikan dia sudah benar-benar bercerai dengan suaminya.

4. Wanita yang sudah ditalak 3

Seseorang yang telah mengucap talak kepada istrinya sebanyak 3 kali, maka statusnya sudah bukan suami istri lagi meskipun belum sah secara pengadilan agama. Maka tidak boleh mantan suaminya itu menikah lagi dengan istri tersebut, sebelum istrinya menikah dengan orang lain secara sah.

5. Wanita musyrik sampai ia bertobat

6. Wanita pezina sampai ia bertaubat

7. Wanita yang berihram sampai tahalul

8. Wanita kelima, sedangkan dia masih punya 4 istri

Semua golongan wanita itu tidak boleh dinikahi sementara hingga penghalangnya hilang. Sehingga mereka termasuk mahram yang tidak boleh dinikahi. Tapi hukum-hukum lain berlaku sama seperti seorang lawan jenis yang tidak ada hubungan mahram.

Demikian beberapa penjelasan tentang siapa mahram kita. Semoga bisa menjadikan kita bertambah wawasan sehingga tidak salah dalam mengambil jalan. Menikah itu memang suatu ibadah yang suci, tapi harus dilaksanakan dengan baik dan halal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.